Menulis

Menulis

Petualangan Mencari Kekayaan Sejati



Alhamdulillah, saya dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Bapak saya tamatan SMP dan bekerja sebagai sopir. Sementara almarhumah Ibu juga tamatan SMP dan fokus mengurus rumah.

Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, saya bercita-cita jadi orang kaya. Punya rumah megah, mobil mewah, aset di mana-mana, dan deposito melimpah.

Saking pengennya kaya, saya nekat menjajal berbagai profesi seperti tukang koran, penjual es legen, pedagang sepatu kreditan, office boy, guru les, dll.

Saya yakin dengan kekayaan itu saya dan keluarga akan hidup bahagia, tenang, senang, kenyang, gembira, damai, dan disegani, he he he.

"Kok disegani Cak Gem, kayak pendekar aja?"

Sebagai orang yang pernah lama hidup sederhana (cenderung agak susah, he he he) saya punya pengalaman tentang arti kata "disegani".

Saat masih unyu-unyu, saya melihat banyak masyarakat di lingkungan saya yang memandang kekayaan sebagai indikasi kesuksesan. (semoga lingkungan Anda tidak begitu).

Orang kaya berarti hebat sehingga laik untuk dihormati dan dimuliakan. Sementara orang miskin adalah pecundang sejati yang sudah semestinya dipinggirkan.

Memang statement di atas masih pro-kontra. Salah satu penyebabnya adalah sudut pandang yang berbeda-beda.

Sebagian orang kaya menyalahkan orang miskin karena gak efektif dan bermalas-malasan. Di pihak lain, sebagian orang miskin mencela orang kaya karena kurang peduli.

Alhamdulillah, seiring waktu berjalan, saya melihat tak semua orang kaya ingin dihormati atau dimuliakan. Di antara mereka bahkan ada yang sungkan kalau ketahuan identitasnya. Sebisa mungkin mereka menutupi miliaran propertinya.

Sungguh saya pernah berjumpa dan akrab dengan orang-orang seperti ini.

"Mas Imam dan saya sama. Sama-sama ngontrak rumah. Buktinya, kalau saya mati, rumah saya gak ada yang saya bawa. Mas Imam juga kalau mati gak bawa rumah kontrakan, he he he," tutur sahabat saya yang rumahnya di mana-mana tapi enggan jumawa.

Di pihak lain, banyak orang miskin yang berpikiran sempit. Karena kurang ilmu dan wawasan, mereka menilai orang kaya sebagai kumpulan makhluk egois yang suka menindas.

Padahal, (menurut saya sekarang), orang kaya memang banyak yang suibuk. Mereka jarang punya waktu untuk nongkrong dengan orang yang hobinya memubadzirkan waktu.

"Tuh lihat orang kaya, gak mau deket ama kita. Mereka happy-happy sendiri ama keluarganya. Somse," demikian kata sebagian teman-teman kismin, eh salah, miskin.

*****

Lalu bagaimana arti kekayaan yang sesungguhnya?

Apa benar harta melimpah adalah indikasi orang sukses?

Apa iya aset di mana-mana bikin senang, kenyang, dan tenang?

Dengan segala kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan ilmu, saya coba jawab pertanyaan itu dengan sebuah kisah nyata.

Suatu hari, alhamdulillah saya pernah diajak pelesiran seorang sahabat yang menurut saya kaya raya. Anaknya banyak dan asetnya melimpah.

Perkiraan saya, aset sahabat saya itu mencapai belasan, bahkan mungkin puluhan miliar rupiah.

Yang menarik, ketika berbincang santai di salah satu rumahnya, sahabat saya mengeluh.

"Mas Imam, kadang kalau saya pusing ngurusin aset, saya bilang dalam hati, 'Dah gue gak mau mikirin lagi. Setan semua itu. Ngabisin waktu. Malah gue jarang ingat sama Allah," tuturnya serius.

Sahabat saya memang patut pusing. Selain usianya semakin senja (mendekati 60-an), saat itu beberapa bisnisnya sedang kurang lancar. Meski tak sampai kehilangan aset, tapi keuntungan ratusan juta, bahkan mungkin miliaran rupiah gagal diraih.

Mendengar keluhannya, saya pun berujar sembari tertawa.

"Bapak yang hartanya miliaran saja pusing. Lha bagaimana saya yang hartanya gak sampai semiliar Pak, he he he," timpal saya.

Pengakuan sahabat saya ini bukan satu-satunya. Beberapa teman saya yang lain juga pernah pusing ngurus bisnis dan asetnya.

"Orang itu wang sinawang Mas Imam. Kalau tahu mumetnya kita, ya sama aja. Apalagi mati gak ada yang dibawa kecuali sodaqoh jariyah," demikian pengakuan beberapa rekan saya yang asetnya miliaran.

Dari fenomena itu saya lantas bertanya dalam hati, "Siapa sebenarnya orang kaya? Lha yang kaya aja pusing, apalagi yang miskin."

*****

Kalau saya pribadi menganggap kekayaan adalah hal yang abstrak. Artinya melibatkan banyak dimensi dalam memahaminya.

Di mata saya kekayaan itu bergantung pada cara pandang seseorang terhadap apa yang belum dan sudah dimiliki.

Bisa jadi tukang becak kaya jika dirinya merasa cukup. Dia tak punya banyak keinginan yang harus dipenuhi. Yang ada hanya bagaimana menopang kebutuhan keluarga, meski harus utang. (Jangan salah, banyak orang kaya yang utangnya bejibun, he he he).

Di lain pihak, ada pejabat negara yang masih miskin. Mereka punya segudang keinginan yang harus dipenuhi. Saking miskinnya, di antara mereka sampai nekat menggasap uang rakyat.

Gak percaya? Coba main ke LP Cipinang atau Salemba (dekat kontrakan saya). Di sana banyak pejabat negara yang terbukti hidup serba kekurangan.

"Jadi bagaimana baiknya Cak Gem, enak jadi orang kaya atau miskin?"

Kalau saya pribadi mending jadi orang berkecukupan. Mau makan? Cukup. Mau punya rumah? Cukup. Mau punya mobil? Cukup. Mau pelesiran? Cukup. Mau sedekah? Cukup.

Gak usah terlalu pusing ngurusin dunia, apalagi sampai stress, marah-marah, dan menghalalkan segala cara. Yang penting pengen apa saja keturutan, he he he.

"Emang bisa Cak Gem kaya tanpa pusing ngurusi harta (sugih tanpo bondo)?"

InsyaAllah bisa. Karena Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta memiliki sifat Al-Ghoniyu yang berarti Maha Kaya.

Kepada Dialah segala urusan dan kebutuhan kita serahkan. Tugas kita hanya satu: akrab dengan Allah dengan cara melaksanakan apa yang Dia cintai, dan menjauhi yang Dia benci.

"Lha kalau ibadah terus, apa kita gak kerja Cak Gem?"

Hus, ngawur ae. Gak ngunu Dul. Para Nabi aja gak ada yang jadi pengangguran. Bahkan, bukan hanya keringat, darah pun mereka cucurkan demi bisa akrab dengan Sang Maha Kaya.

Oh ya satu lagi, bagi teman-teman yang terlanjur atau bakal jadi orang raya, jangan lupa kekayaannya buat "beli" rumah di surga.

Rumusnya:

Makin banyak harta = Makin banyak kekayaan di surga.

Bukan:

Makin banyak harta = Makin banyak siksaan di neraka.

Salam kaya. Salam sukses. Salam bahagia :)

0 Response to "Petualangan Mencari Kekayaan Sejati"

Post a Comment